2.2. Hubungan
Penelitian dengan Ilmu Pengetahuan
Hubungan penelitian dengan ilmu
pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat. Hubungan yang erat itu terjadi
karena penelitian merupakan suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan
terus-menerus untuk memecahkan suatu masalah sedangkan ilmu adalah suatu
pengetahuan yang sistematis dan teorganisasi. Jadi dapat disimpulkan bahwa
ilmu pengetahuan didapat dari suatu kegiatan penelitian. Namun ada juga yang berpendapat
bahwa ilmu dan penelitian adalah sama-sama proses, sehingga ilmu dan penelitian
adalah proses yang sama. Hasil dari proses tersebut adalah kebenaran.
Penelitian
dan ilmu pengetahuan juga memiliki hubungan saling berkesinambungan. Seseorang
melakukan penelitian menggunakan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari
penelitian sebelumnya dan hasil dari penelitian yang berupa ilmu kemungkinan
akan digunakan lagi oleh orang yang sama atau orang lain untuk melakukan
penelitian lagi.
Hubungan
berfikir, penelitian dan ilmu juga sama. Berfikir, seperti halnya ilmu, juga
merupakan proses mencari kebenaran. Proses berfikir adalah refleksi yang
hati-hati dan teratur. Perlu juga disinggung bahwa kebenaran yang diperoleh
melalui penelitian terhadap fenomena yang fana adalah suatu kebenaran yang
telah ditemukan melalui proses ilmiah, karena penemuan tersebut dilakukan
secara ilmiah. Sebaliknya, banyak juga kebenaran terhadap fenomena yang fana
diterima tidak melalui proses penelitian.
Suatu kebenaran ilmiah dapat diterima
dikarenakan tiga hal, yaitu :
1.
Adanya Koheren yaitu suatu pertanyaan dianggap benar jika pernyataan tersebut
koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Misalnya, suatu pernyataan bahwa si Badu akan mati dapat dipercaya, karena
pernyataan tersebut koheren dengan pernyataan bahwa semua orang akan mati.
2.
Adanya Koresponden yaitu suatu pernyataan dianggap benar, jika materi
pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berhubungan atau
mempunyai korespondensi dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Misalnya, pernyataan bahwa ibu kota Propinsi Daerah Istimewa Aceh adalah Banda
Aceh adalah benar karena pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi
atau faktualitas bahwa Banda Aceh memang ibu kota Propinsi Aceh.
3.
Pragmatis yaitu suatu pernyataan dipercayai benar karena pernyataan tersebut
mempunyai sifat fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan atau suatu
kesimpulan dianggap benar jika mempunyai sifat pragmatis dalam kehidupan
sehari-hari. Teori kebenaran tentang sifat pragmatis ini dikembangkan oleh
Ch.s.Pierce (1839-1914). Misalnya, secara pragmatis orang percaya kepada agama,
karena agama bersifat fungsional dalam memberikan pegangan dan aturan hidup
pada manusia.
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar