Jumat, 31 Oktober 2014

Manusia Dan Penderitaan,Keadilan, dan Kegelisaan

Penderitaan 
     Penderitaan memiliki arti menahan atau menanggung sakit yang mendalam. Penderitaan merupakan hal terburuk bagi manusia, karena penderitaan menyiksa lahir dan batin manusia.Penderitaan dapat disebabkan oleh diri sendiri maupun orang lain. Namun penderitaan memiliki tingkatan yang berbeda antar manusia. Berikut contoh-contoh penderitaan yaitu:
  • Dikucilkan
  • Disiksa
  • Ejekan 
  • Kelaparan
  • Tidak Memiliki Keluarga
    Adapun cara-cara menghadapi penderitaan yaitu dengan tetap tabah dan menyerahkan diri kepada       Allah Yang Maha Besar. Karena Allah tidak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan           umatnya.

Keadilan
Keadilan bukan merupakan sama rata atau sama banyak, namun keadilan berarti sesuai dengan kebutuhan. Sesuatu hal dikatakan adil jika hal tersebut sesuai dengan keadaannya.Keadilan merupakan suatu bagian dari hak manusia, namun harus setimbang dengan kewajiban. Seperti contoh dalam sebuah keluarga terdapat adik dan kakak, namun kakak diberikan uang saku lebih banyak dibandingkan adiknya. Ini merupakan  keadilan karena disini kebutuhan seorang kakak yang lebih banyak dibandingkan adiknya, tetapi seorang kakak harus memiliki tanggung jawab yang lebih dari adiknya.

Kegelisahan
Gelisah merupakan perasaan tidak tenang dalam diri manusia. Kegelisahan dapat dilihat dari tingkah laku manusia seperti tidak bisa konsentrasi terhadap pekerjaan yang dilakukan, keringat dingin, badan merasah panas dingin, cara berbicara serta mimik wajah orang itu sendiri. Penyebab terjadinya kegelisahan adalah rasa sayang yang lebih, melakukan perbuatan yang salah, serta perbuatan buruk lainnya.Berikut ini beberapa contoh ,seperti seorang ibu yang gelisah saat anak berpergian jauh, seorang pencuri yang baru saja mencuri.








Selasa, 21 Oktober 2014

Tabot Sebagai Kebudayaan Bengkulu

Di Bengkulu perayaan Tabot pada mulanya dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang India asal Siphoy yang datang bersama datangnya tentara Inggris ke Bengkulu tahun 1685. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India bagian selatan, bersama-sama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu. Salah satu pendatang tersebut adalah Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Beliau lah yang pertama kali memperkenalkan upacara Tabot kepada masyarakat Bengkulu yang berasa disekitar Benteng Marlborough pada saat itu. Upacara ini selanjutnya diwariskan kepada anak cucu keturunannya yang kemudian diantaranya ada yang berasimilasi dengan orang Bengkulu.



Sejarah Singkat Perkembangan Tabot
Upacara tradisional yang dinamakan dengan “Tabot” dan sering juga diucapkan dengan nama “Tabut”, di lain daerah yaitu Sumatera Barat dikenal dengan nama “Tabui” adalah merupakan upacara berkabung Kaum Syi’ah. Karena upacara ini sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di sebagian masyarakat Kota Bengkulu, maka akhirnya dipandang sebagai upacara tradisional orang Bengkulu. Baik dari kalangan kaum Sipai maupun oleh seluruh masyarakat Melayu Bengkulu. Dengan demikian jadilah Upacara Tabot sebagai Upacara Tradisional dari suku Melayu Bengkulu.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, nama “Tabut” berasal dari kata Arab yaitu Tabut, yang secara harfiah berarti Kotak Kayu atau peti. Konon menurut kepercayaan kaum Bani Israil pada waktu itu bahwa bila Tabut ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka, akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Namun sebaliknya bila Tabut tersebut hilang maka akan dapat mendatangkan malapeta bagi mereka.

Di Bengkulu sendiri, upacara Tabot ini merupakan upacara hari berkabung  atas gugurnya Syaid Agung Husein Bin Ali Bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Inti dari upacara tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin Syi’ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husein. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 01 sampai dengan 10 Muharram. Adapun tahapan dari upacara Tabot tersebut adalah sebagai berikut : Mengambil Tanah, Duduk Penja, Menjara, Meradai, Arak Penja, Arak Serban, Gam (masa tenang/berkabung) dan Arak Gedang serta Tabot terbuang.

Prosesi Ritual Tabot
Upacara Tabot di Bengkulu mengandung aspek ritual dan non ritual. Aspek ritual hanya boleh dilakukan oleh Keluarga Keturunan Tabot yang dipimpin oleh sesepuh keturunannya langsung, serta memiliki ketentuan-ketentuan khusus dan norma-norma yang harus ditaati oleh mereka. Sedangkan acara yang mengandung aspek non ritual dapat diikuti oleh siapa saja.

Upacara Tabot yang dilaksanakan setiap tahun oleh Keluarga Keturunan Tabot merupakan prosesi ritual yang dimaknai sebagai symbol-simbol perjuangan dan untuk mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad yang bernama Husein. Adapun tahapan prosesi ritual tersebut adalah sebagai berikut :

1. Mengambil Tanah (01 – 04 Muharram)
Upacara ini berlangsung pada malam tanggal 01 Muharram, yaitu sekitar pukul 22.00 Wib. Tanah yang diambil tersebut merupakan tanah yang dianggap mengandung nilai magis. Oleh sebab itu pengambilan tanah tersebut harus dilakukan pada lokasi tertentu, yakni pada tempat yang dianggap keramat menurut mereka. Lokasi tersebut hanya ada dua tempat di Kota Bengkulu, yaitu :

a. Keramat Tapak Paderi
Yang terletak di tepi laut berjarak sekitar 100 meter kea rah utara dari Benteng Marlborough. Di sebuah ujung karang yang lebih tinggi dari permukaan pantai, di sudut kanan Pelabuhan Lama.

b. Keramat Anggut
Yang terletak di pekuburan umum Pasar Tebek dekat Tugu Hamilton di sebelah Hotel Grage Horison Bengkulu.

Upacara ini diibaratkan sebagi tanda melakukan musyawarah dalam menghadapi peperangan, upacaranya dilengkapi dengan sesajen berupa bubur merah putih, gula merah, sirih 7 subang, rokok 7 batang, air kopi pahit, air serabot (jahe), air susu sapi murni, air cendana dan air selasih, kemudian sesajen dido’akan dan ditinggalkan di lokasi pengambilan tanah. Sesudah sesajen dido’akan, mengambil tanah dua kepal, sekepal diletakkan di Gerga (diibaratkan sebagai Benteng).

2. Duduk Penja
Penja adalah benda yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya, oleh karena itu penja ini disebut juga jari-jari. Dalam setiap kelompok keturunan Tabot terdapat sepasang penja, yang terbuat dari kuningan atau tembaga dan ada juga yang terbuat dari bahan perak. Penja ini menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang dipercaya mengandung kekuatan magis, oleh sebab itu maka harus dirawat, dicuci dengan air bunga dan air limau (jeruk) setiap tahunnya. Prosesi upacara mencuci Penja ini disebut dengan “Duduk Penja”.

Duduk Penja dilakukan di rumah seorang sesepuh keluarga Tabot, pimpinan dari kelompok keluarga Tabot bersangkutan, waktunya pada tanggal 05 Muharram sore hari.

Penja (pending jari-jari), merupakan bentuk jari-jari tangan yang terbuat dari tembaga/kuningan, kemudian disimpan di dalam bakul di tempat di dalam rumah Keluarga Keturunan Tabot (KKT). Dengan diawali menurunkan Penja untuk dicuci, dilengkapi dengan sesajen yang terdiri dari air serobat, air susu murni, air kopi pahit, air cendana dan selasih, jeruk nipis, pisang emas dan tebu serta nasi kebuli dan emping. Setelah cuci Penja tersebut, didudukan diatas pelepah rembio yang ditutup dengan kelambu dan diletakkan di dalam Gerga. Selama upacara tersebut diiringi dengan bunyi-bunyian Dol (alat music berupa tamburin) dan Tassa.

3. Menjara
Menjara artinya mengandung (bahasa Bengkulu) atau berkunjung dengan mendatangi kelompok keluarga yang lain untuk beruji Dol (lomba membunyikan Dol). Dol merupakan alat music tradisional masyarakat melayu Bengkulu. Pada acara Tabot, menjara ini dilakukan dua kali pada dua tempat, yaitu : pada tanggal 06 Muharram kelompok Tabot Bangsal mendatangi kelompok Tabot Berkas dan pada tanggal 07 Muharram, sebaliknya kelompok Tabot Berkas mendatangi kelompok Tabot Bangsal. Acara ini berlangsung dilapangan terbuka yang disiapkan oleh masing-masing kelompok dan dilakukan pada sekitar pukul 20.00 Wib hingga pukul 23.00 Wib.

Upacara Menjara merupakan sebuah perjalanan panjang di malam hari. Menjara atau beruji Dol ditamsilkan sebagai saat-saat terjadinya peperangan antara Husein dan Kaum Yazid. Ritual menjara (saling menyerang) dilakukan di lapangan terbuka dengan diiringi bunyian Dol dan Tassa yang bertalu-talu pada malam hari sekitar pukul 20.00 s/d 24.00 Wib.

4. Meradai
Acara meradai ini dilakukan pada tanggal 06 Muharram, pelaksanaan acara ini disebut juga dengan Jola, yaitu sekelompok anak-anak yang berusia antara 10 s/d 12 tahun. Acara meradai ini dilakukan di dalam Kota Bengkulu, yang waktunya dilaksanakan pada siang hari. Agar acara ini tidak terjadi tumpang tindih terhadap sasaran, maka sebelumnya dilakukan kesepakatan antara pimpinan kelompok dimana lokasi untuk masing-masing kelompok. Selanjutnya sebelum para Jola turun ke lapangan menjalankan tugasnya, mereka mendapatkan pengarahan dari pimpinan kelompok yang menugaskannya. Di dalam menjalankan tugasnya para Jola harus mengikuti aturan dan petunjuk yang telah ditetapkan.

5. Arak Penja
Arak Penja atau disebut juga Arak Jari-jari, dilaksanakan pada malam ke delapan dari bulan Muharram. Di mulai sekitar pukul 19.00 Wib hingga pukul 21.00 Wib dengan menempuh rute yang telah ditentukan bersama pada jalan-jalan utama dalam Kota Bengkulu. Pada acara ini setiap kelompok Tabot akan mengirimkan regunya sekitar 10-15 orang, yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dan remaja. Acara ini dimulai dan berakhir di depan Rumah Kediaman Jabatan Gubernur Bengkulu.

6. Arak Serban
Arak Serban / Sorban berlangsung pada malam ke Sembilan bulan Muharram yang dimulai sekitar pukul 19.00 s/d 21.00 dengan star dan finish ditentukan oleh Kelompok keluarga Tabot bersama dengan Pemerintah daerah. Benda yang diarak selain penja, ada juga Serban / Sorban putih diletakkan pada Tabot Coki (Tabot Kecil), dilengkapi dengan bendera / panji-panji berwarna putih dan hijau atau biru yang bertuliskan “Hasan dan Husein” dengan huruf kaligrafi yang indah.

7. Gam (masa tenang / berkabung)
Satu dari tahapan Upacara Tabot yang sangat penting dan harus dilakukan adalah “Gam”, suatu waktu yang telah ditentukan dengan tidak melukan aktifitas apapun. Gam sendiri berasal dari kata “ghum” yang berarti tertutup atau terhalang. Masa Gam ini berlangsung pada pukul 07.00 Wib sampai dengan sore hari kira-kira pukul 16.00 Wib, dimana pada waktu tersebut semua aktifitas yang berkenaan dengan upacara Tabot tidak boleh dilakukan termasuk menyembunyikan Dol dan Tassa. Jadi masa Gam ini dapat disebut juga masa tenang.

8. Arak Gedang
Arak gedang merupakan prosesi upacara Tabot yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Bengkulu. Arak gedang dilaksanakan pada tanggal 09 Muharram atau malam ke 10 Muharram, yang dimulai sekitar pukul 19.00 Wib dengan diawali acara ritual pelepasan Tabot bersanding di Gerga masing-masing. Selanjutnya diteruskan dengan Arak Gedang, yaitu group Tabot bergerak dari markas masing-masing secara berombongan dengan menempuh rute yang telah ditentukan. Di jalan protocol semua Tabot bertemu sehingga membentuk Arak Gedang (Pawai Akbar) menuju lapangan utama.

9. Tabot Terbuang
Acara terakhir dari rangkaian Upacara Ritual Tabot adalah acara Tabot terbuang. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 Wib seluruh Tabot telah berkumpul di Lapangan Merdeka di depan rumah jabatan Gubernur Bengkulu. Tabot-tabot disandingkan yang diikuti oleh masing-masing personil kelompok tabot. Pada sekitar pukul 10.00 Wib arak-arakan Tabot dilepas oleh Gubernur Bengkulu untuk menuju komplek pemakaman umum Karabela. Tempat ini menjadi lokasi acara ritual tabot terbuang karena di sana dimakamkan Imam Senggolo (Syeh Burhanuddin) pelopor upacara Tabot di Bengkulu. Dengan berakhirnya Tabot terbuang maka berakhirlah semua prosesi ritual upacara Tabot.

Tabot Sebagai Pesona Wisata Budaya
Masyarakat Bengkulu sangat memahami bahwa Tabot adalah suatu upacara tradisional yang bersifat ritual yang dilaksanakan setiap tahun terutama oleh Keluarga Kerukunan Tabot dengan mengikuti calendar Islam yaitu tanggal 01-10 Muharram. Dipandang dari sisi pariwisata, keunikan bentuk dan upacara Tabot yang bersifat ritual tersebut dapat menjadikan atraksi tersendiri bagi wisatawan untuk dapat dinikmati. Seiringan dengan perjalanan waktu, upacara Tabot ini akhirnya berkembang dalam bentuk atraksi budaya dan hiburan rakyat di Bengkulu.



Sabtu, 04 Oktober 2014

Permasalahan Kebudayaaan Disekitar

Banyaknya macam kebudayaan disekitar kita, seperti kebudayaan tidak boleh makan sambil berdiri. Namun kebudayaan ini sudah jarang diterapkan lagi karena pengaruh kebudayaan barat yang mempengaruhi orang sehingga  makan sambil beridiri seperti pada pesta-pesta yang banyak menggunakan konsep standing party. Selain berdampak pada lunturnya budaya makan tidak boleh berdiri, makan sambil berdiri juga dilarang karena alasan kesehatan.Maka dari itu sebaiknya kita tetap melestarikan budaya tersebut agar tetap terjaga dan dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari dampak makan sambil berdiri.

Sekian artikel ini saya buat semoga dapat berguna untuk para pembaca

Jumat, 03 Oktober 2014

Kepribadian Bangsa Timur

Kepribadian Bangsa timur yang dikenal dunia sopan serta ramah.Namun tidak semua daerah timur masih memiliki kebudayaan tersebut karena pengaruh dari budaya lain.Seperti di negara Indonesia sendiri memiliki kebudayaan menundukana badan jika melewati orang yang lebih tua,tetapi sekarang banyak anak muda yang lalu lalang dengan enjoynya di depan orang yang lebih tua dengan santainya.Jika kebudayaan tersebut tidak cepat dikembalikan segera maka bisa saja kebudayaan tersebut bisa saja luntur dan terlupakan.Oleh sebab itu baiknya anak diajarkan sejak dini, agar kebudayaan sopan tersebut masih terlestaikan hingga generasi selanjutnya.

Kebudayaan

Kebudayaan merupakan kebiasaan dari suatu tempat atau wilayah tertentu yang dilakukan secara terus menerus (turun menurun). Kebudayaan juga mempengaruhi perilaku masyarakat tempat mereka berada.Contoh kebudayaan seperti kebudayaan timur yang dikenal sopan dan juga ramah.Namun kebudayaan suatu wilayah bisa saja luntur.Adapun sebab-sebab lunturnya kebudayaan suatu daerah antara lain adalah masuknya kebudayaan lain serta jarangnya sosialisasi kebudayaan tersebut kepada penerusnya.Oleh sebab itu dari sekarang baiknya kebudayaan suatu wilayah hendaknya selalu dilestarikan agar anak cucu kita dapat merasakan dan melihat kebudayaan tersebut.

Manusia

Haloo semua, pada tulisan ini saya akan membahas tentang manusia.

Manusia merupakan makluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara makluk lainnya di dunia, karena manusia memiliki akal budi, dan juga hati nurani. Manusia juga tidak dapat hidup sendiri, sehingga manusia disebut sebagai makluk sosial.Sebagai makluk sosial, manusia akan hidup berdampingan satu sama lain. Hal ini tentu saja menimbulkan banyak keberagaman dalam kehidupan sosial manusia. Keberagaman menyebabkan munculnya banyak perbedaan. Jika perbedaan ditanggapi dengan cara positif, perbedaan dapat menyatukan sesama manusia. Namun sebaliknya, jika perbedaan ditanggapi secara negatif, maka perbedaan dapat merenggangkan hubungan manusia antar manusia. Manusia sebagai makluk dengan kasta tertinggi dibandingkan lainnya juga memiliki kewajiban menjaga seluruh ciptaan Tuhan.

Sekian pembahasan saya tentang manusia, semoga artikel ini dapat berguna bagi kita semua.